BEBERAPA anak yang sebelumnya bermain di jalanan kampung tampak berhenti dan mendekat membawa serta rasa penasarannya. Warga yang melintas memperlambat langkah, sebagian bahkan duduk di pinggir jalan untuk menyaksikan pertunjukan yang berlangsung tanpa panggung dan tanpa jarak dengan penonton.
Suasana kampung yang biasanya dipenuhi aktivitas sehari-hari mendadak berubah menjadi ruang seni yang hidup. Setiap sudut kampung menghadirkan kejutan, dari gerak tubuh para performer hingga interaksi spontan antara seniman dan warga yang menyaksikan. Ini seni kampung, begitu mereka menyebutnya.

Pemandangan itu menjadi bagian dari rangkaian Mbangunredjo Art Festival (MBAF) ke-13 yang digelar Sanggar Omah Dhuwur, sebuah wadah berkesenian anak-anak di kampung Bangunrejo. Festival ini menghadirkan berbagai kegiatan seni yang melibatkan warga, salah satunya pementasan performance art yang menyatu langsung dengan ruang hidup masyarakat kampung.
Performance art tahun ini mengusung tema “Berakar untuk Tumbuh.” Tema tersebut mengajak seniman dan warga melihat kembali sejarah kampung sekaligus membayangkan kemungkinan masa depan yang baru. Melalui performance art, para seniman mencoba menghadirkan ruang refleksi terhadap sejarah tersebut.
BACA JUGA : Omah Dhuwur, Seni Melawan Arek BR
Tubuh para performer bergerak di berbagai sudut kampung di gang sempit, halaman rumah, di antara lintasan sepeda motor, hingga ruang terbuka, menciptakan pengalaman seni yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga. Bagi penyelenggara, performance art di Bangunrejo tidak sekadar pertunjukan, tetapi cara membaca kampung sebagai ruang yang penuh cerita.
Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari pengalaman itu sendiri. Tak heran, aksi para performer ditampilkan di tengah lalu lalang kendaraan bermotor. Ramai, karena sore itu warga juga berburu takjil jelang berbuka. Tak ada gesekan, tak ada umpatan, semuanya membaur.
“Ya namanya juga seni kampung. Ya begini ini. Jalanan kampung jadi ‘panggung’, warga yang lalu lalang jadi penontonnya. Seni dan senimannya menyatu dengan kehidupan di perkampungan ini,” ujar Abdoel Semoet, pendiri Sanggar Omah Dhuwur.
Setidaknya 20 performer yang terlibat dalam festival ini. Mereka menampilkan karya otentik yang menjadi wajah dari kampung Bangunrejo. Semua penampilan tidak hanya memposisikan warga sebagai penonton. Festival ini memberikan pengalaman bukan hanya kepada warga semata, melainkan para seniman juga.
Aksi ini menyatu karena selalu ada interaksi seniman dengan warga tanpa batas, tanpa sekat. Biasanya mereka menampilkan karya di panggung-panggung pagelaran. Kini jalanan kampung dan gang-gang sempit tanpa panggung yang menjadi ruang ekspresi mereka.
Dari Gang ke Gang
Rangkaian performance art dibuka dengan tarian sufi yang diiringi tembang Macapat di depan gapura Jalan Dupak Bangunsari III. Gerakan berputar para penari menghadirkan suasana khidmat, seolah menjadi penanda dimulainya rangkaian pertunjukan seni di ruang kampung.
Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan aksi melukis pohon di atas kanvas yang dilakukan oleh Mimi bersama Ola, dua seniman tamu asal Polandia dan Jerman yang turut meramaikan festival seni di perkampungan padat penduduk itu. Mereka mengajak anak-anak kampung untuk terlibat dalam karya lukisnya.
Lukisan tersebut tidak hanya menjadi karya individu, tetapi juga milik anak-anak kampung yang terlibat. Mereka diajak menambahkan cap tangan berwarna di atas kanvas, menciptakan karya kolektif yang menjadi simbol kebersamaan sekaligus partisipasi warga dalam festival. Interaksi ini spontan sehingga menghasilkan karya seni tak terduga.

Performance art kemudian berlanjut dengan berbagai karya dari para pegiat seni lainnya. Salah satu karya menghadirkan refleksi tentang anak-anak yang tumbuh di kampung bekas lokalisasi tertua di Surabaya, yang berusaha menapaki masa depan tanpa terus dibayangi stigma masa lalu kampung mereka.
Penampilan berikutnya adalah karya berjudul “Melayangkan” dari Bima. Dalam performance ini, para penonton diajak terlibat langsung dengan membuat pesawat kertas, lalu melemparkannya sambil menyampaikan satu harapan. Pesawat-pesawat kertas yang melayang di udara menjadi simbol harapan yang dilepaskan bersama.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan oleh Sudrajat Kurniawan (Mas Jujut) dari Malang Performance Art Community, disusul karya dari Zakim yang menanamkan kesadaran melalui tanda atau markah di jalan sebagai bentuk refleksi terhadap ruang publik.
Salah satu penampilan yang paling menarik perhatian datang dari Muhammad Shofi Wahyudi, pemuda asal Gresik, Jawa Timur. Berbekal latar belakang seni teater, Shofi menampilkan drama monolog berjudul “Sesudahmu Sesudahku.”
Melalui penampilannya, Shofi menghadirkan aksi teatrikal yang memikat perhatian penonton dan warga yang melintas di sekitar lokasi festival. Salah satu momen yang paling mengejutkan terjadi ketika ia memasukkan dua ekor burung pipit ke dalam mulutnya, yang kemudian dilepaskan kembali sebagai bagian dari simbol dalam pertunjukan tersebut.
“Saya menempatkan diri sebagai sosok anak kecil dan orang dewasa. Burung sendiri saya tempatkan sebagai simbol kebebasan. Stigma yang mengikat itu harus dibebaskan, seperti burung yang keluar dari mulut itu harus dilepaskan,” ujar Shofi.
Aksi tersebut membuat penonton terkejut sekaligus kagum dengan keberanian dan makna yang ingin disampaikan melalui pertunjukan itu. Tentang kebebasan, tentang melepaskan stigma, dan tentang memilih jalan hidup sendiri.
“Seperti kita yang bebas memilih jalan hidup kita sendiri, seperti burung-burung itu,” imbuhnya
Rangkaian performance art juga menghadirkan karya dari Enny Asrinawati yang menampilkan performa puasa tubuh, sebuah eksplorasi tubuh sebagai medium refleksi mengenai kesadaran, ketahanan, dan pengalaman batin. Karya ini menekankan, bahwa perempuan memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri. Performance art ini ia tampilkan di pendopo kecil tepat di depan rumah susun Bandunrejo.
Seni Sebagai Ruang Harapan
Tak hanya peserta workshop, salah satu pemateri juga turut menampilkan karya. Oktaviani Puspitasari menghadirkan performance art berjudul “Kapilaritas.” Karya ini merefleksikan proses pertumbuhan yang sering kali terjadi secara perlahan dan tidak terlihat.
Melalui metafora kapilaritas yaitu naiknya air melalui pori-pori kecil, ia menggambarkan bagaimana kehidupan bergerak secara sunyi namun konsisten, namun memiliki daya untuk mengubah sesuatu dari dalam. Busana putih yang dikenakannya perlahan berubah warna ketika anak-anak menuangkan cat warna air ke tubuh dan pakaiannya.
BACA JUGA : Rekam Keadilan Iklim Kaum Marjinal
Air berwarna yang mengalir di tubuhnya menjadi simbol bagaimana sesuatu dapat meresap perlahan, bergerak tanpa banyak suara, namun memberi pengaruh yang mendalam. Dalam pertunjukan tersebut, Oktaviani juga melibatkan aksi spontan sejumlah anak-anak yang berada di sekitar lokasi pementasan.
“Kapilaritas mengajarkan bahwa yang kecil dan nyaris tak terlihat justru memiliki daya angkat paling mendasar. Ia bekerja tanpa spektakel, tanpa deklarasi, namun menentukan arah seluruh pertumbuhan,” tulis Oktaviani dalam konsep karyanya.
Bagi Oktaviani, proses tersebut juga menjadi metafora harapan bagi Bangunrejo, yaitu perubahan yang diupayan terus terjadi secara perlahan. “Saya berharap kesenian dan kegiatan budaya yang hadir di kampung ini bisa menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyalurkan energi dan ekspresi mereka ke arah yang positif.”
Melalui seni dan kebudayaan, ia melihat kemungkinan bagi generasi muda Bangunrejo untuk tumbuh dengan cara yang berbeda, menemukan ruang berekspresi, membangun kepercayaan diri, dan menjadikan seni sebagai bagian dari perjalanan hidup mereka.
Semangat yang sama juga disampaikan oleh Abdoel Semoet, pendiri Sanggar Omah Dhuwur yang selama ini menjadi penggerak kegiatan seni di kampung tersebut. Menurutnya, Mbangunredjo Art Festival lahir dari upaya warga untuk menunjukkan bahwa Bangunrejo memiliki cerita lain selain stigma masa lalu.
“Mbangunredjo Art Festival ini kami bangun sebagai bentuk pertanggungjawaban atas apa yang selama ini kami lakukan di kampung. Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak dan teman-teman di sini punya semangat untuk mengubah stigma yang selama ini melekat pada Bangunrejo,” ujar Abdoel Semoet.
Ia menambahkan bahwa festival ini juga menjadi ruang untuk menyuarakan pengalaman yang selama ini jarang terlihat, terutama terkait perempuan dan anak-anak di kampung tersebut.
“Dalam beberapa kegiatan sebelumnya, kami juga banyak menampilkan monolog tentang perempuan. Kami ingin menunjukkan, dalam sejarah kampung ini, yang paling banyak menjadi korban sebenarnya adalah perempuan dan anak-anak,” ungkapnya.
Performance art ini juga berhasil menarik perhatian anak-anak di kampung tersebut. Salah satunya Rina (bukan nama sebenarnya), yang tampak antusias menyaksikan pertunjukan sejak awal hingga puncaknya di balai kampung. “Wah, kok bisa gitu?” ujarnya dengan takjub saat melihat berbagai aksi para pegiat seni.
Bagi Rina, pengalaman itu terasa istimewa. Di tengah lingkungan kampungnya, ia menemukan hiburan sekaligus pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, baik di sekolah maupun dalam kesehariannya. “Aku jadi pengen ikut pentas nanti, kapan-kapan,” tuturnya dengan penuh semangat.
Rangkaian performance art yang digelar di Kampung Dupak Bangunrejo ini menjadi pembuka dari Mbangunredjo Art Festival (MBAF) ke-13 tahun 2026. Setelah pementasan teater dan performance art pada Maret ini, festival akan berlanjut dengan berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan masyarakat.
Agenda berikutnya meliputi lomba mewarnai budaya untuk tingkat TK dan SD pada April 2026, pameran kreasi seni dan aksara Jawa pada Mei 2026, peluncuran buku “Cerita Perempuan Bangunrejo” pada Juni 2026, serta pemutaran dan diskusi film dokumenter pada Juli 2026.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut akan mencapai puncaknya pada Agustus 2026 melalui acara puncak MBAF ke-13 yang menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Mbangunredjo Art Festival tidak hanya menjadi perayaan seni, tetapi juga ruang bersama bagi warga untuk terus membangun narasi baru tentang kampung mereka, bahwa dari ruang kecil di tengah kota, kreativitas, harapan, dan kebudayaan dapat terus tumbuh.
BACA JUGA : Bergulat Hidup di Jalur Maut
Rangkaian kegiatan diawali dengan workshop pada 7 Maret 2026 yang diikuti sekitar 20 peserta dari berbagai kalangan pegiat seni, mulai dari mahasiswa hingga aktivis komunitas dari berbagai daerah.
Workshop ini menjadi ruang pematangan gagasan sekaligus proses perancangan konsep karya sebelum dipentaskan di ruang publik Bangunrejo. Para peserta mendapat pendampingan dari Dapeng Gembiras, Enny Asrinawati, dan Oktaviani Puspitasari, inisiator Malang Performance Art Festival sekaligus bagian dari Malang Performance Art Community.
Melalui workshop tersebut, para peserta diajak menggali berbagai pendekatan dalam performance art, mulai dari penggunaan tubuh sebagai medium ekspresi, interaksi dengan ruang publik, hingga bagaimana karya dapat merespons konteks sosial di lingkungan sekitar.